Leluhur mengangguk, tapi belum sepenuhnya puas. "Lalu... bagaimana jika kamu diserang saat sedang lengah oleh orang yang memiliki kekuatan di atasmu? Kalau kamu terbunuh, artefak itu kehilangan pemiliknya. Bukankah ada kemungkinan orang lain membentuk ikatan baru dengan artefak itu?"

Kalimatnya menggantung. Kemudian ia menyadari betapa mendalam kekhawatiran itu, dan buru-buru melanjutkan.

"Maaf, Xiao Ling. Aku tidak bermaksud menyelidiki rahasiamu. Aku hanya... mengkhawatirkanmu." Ucapannya terdengar sangat tulus. Jarang sekali lelaki seumurannya bersikap segan seperti itu. Tapi melihat betapa besar kekuatan Lynx, dan membayangkan sosok-sosok yang mungkin berdiri di belakangnya, ia merasa sudah sewajarnya menunjukkan rasa hormat.

Lynx membalasnya dengan senyum lembut. "Tenang saja. Meski aku belum sempat mengaktifkan artefak ini, ia tetap akan melindungiku secara otomatis. Itulah kekuatan aslinya. Namun untuk menggunakannya di pertempuran, aku memang harus mengaktifkannya dan berubah seperti tadi." Ia menatap ke arah langit yang mulai kembali cerah. "Itu sebabnya aku bisa melawan senior Zhu Rui. Karena artefak ini tetap melindungiku. Dan juga alasan kenapa aku tidak khawatir memberitahumu semua ini. Karena tanpa aku, artefak ini tidak berguna. Bahkan jika aku terbunuh, artefak ini akan hancur dan berubah jadi rongsokan."

Dalam hati Lynx membisikkan kalimat yang tak akan pernah ia ucapkan keras-keras. "Aku tidak berbohong kan... Artefak ini sebenarnya hanya artefak tingkat rendah. Kekuatan asliku yang membuat baju tempur itu tampak seperti alat dewa. Tanpa aku, benda itu cuma barang tidak berguna."

Namun Leluhur yang tak tahu isi hati pemuda itu hanya bisa melongo dalam diam. "Apa? Bisa melindungi sendiri... dan hancur kalau pemiliknya mati? Artefak ini... benar-benar luar biasa." Ia menelan ludah, rasa kagum dan kaget menumpuk seperti gumpalan api di dadanya. Kalau saja ia tahu kenyataan sebenarnya, mungkin ia akan muntah darah di tempat.

"Baguslah," ucap Leluhur akhirnya, mencoba menenangkan hatinya sendiri. "Kalau begitu aku bisa lebih tenang. Baiklah, sekarang kita periksa ruang dimensi itu." Ia mengepalkan tangan, semangat membuncah kembali. Tatapannya berubah tajam, namun ada satu hal yang tak bisa ia usir dari benaknya.

Dalam diam ia berkata pada dirinya sendiri, "Mungkinkah... artefak miliknya ini seperti pedang iblis? Artefak yang bisa membuat pemiliknya menjadi tak terkalahkan. Kalau benar, hanya dia yang bisa menghadapi pewaris pedang iblis jika satu hari nanti berhasil dibangkitkan..."

Lynx tiba-tiba terdiam. Tubuhnya menegang seperti tersengat sesuatu. Tatapannya kosong, seolah menyadari sesuatu yang tidak beres.

Ia menoleh cepat ke sekeliling, namun tak menemukan apa pun. Tak ada suara. Tak ada langkah kaki. Bahkan tak ada hembusan angin atau getaran spiritual. Semua terasa sunyi, seperti dunia telah berhenti berputar. Namun yang paling membuat dadanya berdegup tak karuan adalah satu hal. Rira tidak ada.

Kerut di dahinya dalam. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya perasaannya saja. Tapi semakin ia memperhatikan sekeliling, semakin ia sadar bahwa gadis itu benar-benar menghilang. Tak ada jejak, tak ada rasa kehadiran sama sekali.

"Rira!" teriaknya lantang. Suaranya menggema jauh menembus langit yang masih menyisakan bekas ledakan barusan. Ia mencoba lagi, lebih keras, kali ini dengan mengerahkan kekuatannya yang membuat udara bergetar dan menciptakan gelombang suara yang menjalar hingga ke puluhan kilometer.

Namun tetap sunyi. Tak ada sahutan.

Kening Lynx semakin mengkerut. Ia mengaktifkan kekuatan internalnya, menyebarkan kesadaran spiritual ke seluruh penjuru area. Aliran energi menyusup ke celah tanah, reruntuhan, bahkan langit yang masih mengelam karena sisa pertarungan. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada jejak Rira. Tak ada bayangan. Tak ada riak energi yang tertinggal. Seolah Rira tak pernah ada di sana sejak awal.

Ia menoleh pada Leluhur Sekte Api Langit yang masih berdiri di tempatnya, terlihat serius namun tenang.

"Leluhur, Anda melihat Rira? Wanita yang bersamaku tadi," tanya Lynx cepat, nadanya berat dan gelisah.

Sang Leluhur menggeleng pelan. "Tidak. Sejak aku turun, aku tidak melihatnya. Mungkin dia pergi menyelamatkan diri seperti para prajurit dan kultivator lain yang mundur agar tak terkena dampak ledakan energi. Itu hal wajar."

Namun Lynx kembali menggeleng. Kali ini ekspresinya lebih gelap.

"Tidak. Aku tahu pasti, dia masih bersamaku saat aku berubah... Dia berdiri tepat di sampingku." Suaranya pelan, tapi tajam seperti bilah pedang.

Dalam hati Lynx bertanya-tanya, "Mungkinkah... dia kaget melihat perubahanku? Lalu mencari tempat aman saat aku memisahkan pertempuran mereka?"

Pikiran itu menyesakkan. Ia memanggil lagi, lebih lembut, "Rira... kau di mana?"

Namun sekali lagi, tak ada jawaban. Hanya suara angin yang menyapu sisa-sisa puing di medan pertempuran.

Tanpa membuang waktu, Lynx langsung bergerak. Sosoknya lenyap dalam sekejap mata. Ia menjelajahi seluruh area dengan kecepatan yang tak bisa ditangkap oleh mata bahkan termasuk immortal. Area sekitar, hingga bangunan berjarak puluhan kilometer dimana dia merasakan ada kehadiran manusia, dan berbagai celah lembah diperiksa. Ia bahkan melesat ke langit, membelah awan, mencari dengan mata langit. Namun tak ada tanda-tanda.

Leluhur yang melihat dari kejauhan, hanya bisa berdiri diam sambil mengamati langit yang baru saja dilintasi Lynx.

Dalam hatinya, ia menggeleng dan bergumam pelan, "Dia bisa bergerak secepat itu... tanpa mengaktifkan artefak? Anak itu sungguh tidak biasa..."

Setelah waktu yang terasa sangat panjang meski hanya beberapa menit berlalu, Lynx akhirnya kembali. Tubuhnya tidak terlihat kelelahan meski telah memutari seluruh tempat sejauh puluhan kilometer, namun langkahnya sedikit berat. Matanya menyapu medan pertempuran sekali lagi sebelum berhenti tepat di sisi Leluhur Sekte Api Langit yang sedang berlutut memeriksa sebuah titik di tanah yang tampak tak berbeda dari sekitarnya. Debu dan puing masih menutupi sebagian besar area itu, namun Leluhur terlihat cukup yakin dengan apa yang dicarinya.

Meski sudah lebih dari seratus tahun berlalu sejak terakhir kali ia berada di tempat ini, Leluhur masih mengingat dengan jelas letak koordinat yang ditunjukkan oleh pemimpin sekte terdahulu. Dia juga pernah datang ke tempat ini saat dia menerima tantangan perebutan hak penjaga kunci dimensi dari ketiga Immortal lawannya tadi.

Begitu Lynx tiba, Leluhur menoleh sambil berdiri perlahan.

"Bagaimana, Xiao Ling? Apakah kamu menemukannya?" tanyanya, nada suaranya lembut namun mengandung kekhawatiran yang jelas terlihat.

Lynx hanya menggeleng perlahan. Wajahnya tidak menunjukkan perubahan ekspresi besar, tapi sorot matanya menunjukkan rasa marah.

"Aku tidak menemukannya... Kemana dia bisa pergi?" bisiknya pelan, nyaris seperti bertanya pada dirinya sendiri.

Pikirannya melayang jauh. Ia mengingat pertemuannya kembali dengan Rira, betapa ia merasa bahagia waktu itu. Rira bukan hanya seseorang yang penting baginya, tapi juga orang yang tahu tentang keberadaan suku Surya. Informasi yang selama ini ia cari bersama rekan-rekan lainnya tanpa petunjuk apapun. Namun karena kondisi genting adanya tanda bahaya dari kertas formasi miliknya, ia belum sempat menanyakan apa pun secara mendalam. Ia terlalu yakin bahwa dirinya bisa melindungi Rira kapan pun dan di mana pun.

Dan sekarang, dia telah menghilang.

"Rira... apakah seseorang menculikmu?" gumamnya dalam hati. .

"Siapa pun yang melakukannya... aku akan membalas. Aku akan menyelamatkanmu. Tunggu aku..." Suaranya dalam batin bersumpah.

Tarikan napas panjang menegaskan tekadnya. Lynx kembali menenangkan diri dan memfokuskan perhatiannya pada hal yang bisa dilakukan saat ini.

Ia menoleh pada Leluhur. "Bagaimana, Leluhur? Apakah ada petunjuk mengenai ruang dimensi?" tanyanya. Kali ini nadanya terdengar lebih serius, sedikit tegang. Ada harapan yang terselip di matanya, berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan pegangan, meski sekecil debu.

Namun Leluhur hanya menggeleng pelan. "Tidak ada. Aku sudah memeriksa area ini, tapi tak kutemukan apa pun petunjuk untuk bisa membukanya kembali. Tampaknya, untuk bisa membukanya, kita harus bertanya langsung pada mereka bertiga."

Leluhur mengalihkan pandangannya ke arah ketiga immortal yang masih terbaring tak sadarkan diri di sisi rerumputan. Nafas mereka tenang, namun mereka belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman.

Lynx memandangi mereka sebentar. Cahaya biru dari matanya memantul samar di udara.

"Kalau begitu, tunggu... Aku akan bangunkan mereka," gumamnya pelan, sorot matanya masih terlihat marah karena kehilangan jejak Rira.

